Jumat, 27 Mei 2011

Hantu malaikat (cerpen)


HANTU MALAIKAT


     Dulu ia tak begini, wajahnya yang cantik menjadi perhatian bagi banyak orang. Senyumnya yang manis banyak menawan hati setiap pemuda disana. Bahkan perhatiannya bagi orang kecil membuat ia terkenal sampai kemana-mana. Kebaikannya seperti parfum yang selalu mengikutinya kemana ia melangkah. Padahal ia bukan siapa-siapa. Hanya seorang gadis cantik yang baru kuliah tingkat satu sekolah perawat.
     Dulu, ia selalu ceria dan banyak tertawa.  Banyak orang senang kepadanya karena dia juga pandai menyegarkan suasana. Hampir semua orangtua ingin mengambilnya jadi menantu, karena perhatiannya yang besar terhadap para manula.  Tapi tak ada seorang pemuda pun yang berani macam-macam kepadanya, mereka segan kepadanya, karena kesopanan dan kepribadiannya yang baik.  Kalau pun ada satu dua orang yang menggodanya pasti yang lain akan mencegahnya.  Sebab semua orang sayang padanya.
     Tapi kini ia hanya seperti seonggok mayat hidup.  Sesosok hantu yang menakutkan.  Entah mengapa nasibnya begitu.  Sampai semua orang pun tak percaya kalau Yang Maha Kuasa tega melakukan itu padanya.  Apakah itu memang sudah menjadi takdirnya.  Yang jelas dia sendiri sudah tak ingin menghirup udara segar lagi.  Tak ada lagi orang yang bisa menghiburnya.  Bahkan anak-anak pun berlarian ketakutan ketika melihat wajahnya yang menyeramkan.  Tak ada lagi orang yang mengenalinya.  Semua orang yang mengenalnya hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang.
     Berawal dari kejadian malam itu, saat ia pulang kuliah hampir tengah malam karena ada tugas yang harus dia kerjakan.  Tak tahu dari mana tiba-tiba muncul empat orang pemuda yang mencegatnya dan menyeretnya ke tempat yang sunyi.  Disanalah ia digagahi oleh para berandalan itu. Bukan hanya itu, untuk menghilangkan jejaknya para pemuda itu mengguyurnya dengan bahan bakar dan membakarnya hidup-hidup.  Kalau bukan karena takdirnya yang masih harus hidup, mungkin dia sudah tidak ada lagi.
     Sekarang, sebelah matanya menonjol keluar, yang sebelah lagi tertutup kulit yang meleleh.  Hidungnya sudah tak ada lagi.  Bentuk mulutnya tak karuan.  Kulit wajahnya menempel sampai ke dadanya.  Telinganya hilang sebelah dan yang sebelah lagi meleleh. Seluruh kulit tubuhnya meleleh bekas terbakar.  Dia memang tak layak lagi hidup.  Dengan kepalanya yang botak dan hanya ditumbuhi beberapa helai rambut panjang yang terurai, dia lebih mirip zombie ketimbang manusia.  Ah...entah mengapa Tuhan masih menyayangkan nyawanya sementara dia sendiri sudah tak mengingininya.  Sebab apalagi yang bisa dia lakukan bila seluruh jarinya menyatu dan hanya bisa duduk di kursi roda.
     Dia hanya jadi pesakitan dan wanita yang hidup dengan keputus asaan.  Tak ada lagi orang yag mengunjunginya kini.  Ia hanya berteman sepi di kamarnya.  Beberapa kali ia berniat bunuh diri, tapi selalu saja ia masih tertolong.  Dalam hatinya ia merasakan ketidak adilan Tuhan.  Mengapa Tuhan tetap mengingininya hidup kalau hanya jadi orang yang paling menderita di seluruh dunia.
     Semua orang yang melihatnya pasti tak tega, begitu juga denganku.  Kalau memang tak ada orang yang mengunjunginya lagi, bukan berarti mereka tak sayang lagi, tapi mereka takut menyinggung perasaaannya dan tak tahan melihat penderitaannya yang keterlaluan itu. Daripada membiarkannya seperti itu, aku memberanikan diri menemaninya hampir setiap hari.
     Mula-mula ia tak mau menemuiku, karena ia malu dan kuatir jadi bahan ejekan.  Tapi melalui orangtuanya aku meyakininya, bahwa aku adalah teman SMPnya dulu dan pernah menaruh hati padanya.  Kalau dulu kami pernah berbagi kebahagiaan bersama, aku ingin berbagi penderitaan juga dengannya.
     Memang sulit juga sampai akhirnya aku diterima. Hampir satu bulan sejak aku menawarkan diri jadi sahabatnya di kala sepi, barulah aku diterima.  Mungkin ia mempercayai aku, seperti juga dulu ia sangat percaya padaku.
     “Ning, aku mau kesini bukan karena kasihan dengan keadaanmu yang seperti ini,” Kataku mulai cerita,” Tapi karena aku ingin tetap menjadi temanmu sama seperti waktu dulu.  Kau kan tahu isi hatiku padamu, walaupun saat itu kita masih belia.  Sampai saat ini aku masih seperti yang dulu.  Makanya setelah mendengar kabar tentangmu, aku menyempatkan diri kembali kesini.”
     Gadis itu hanya terdiam.
     “Aku akan datang tiap hari bila kamu mengizinkan.”
     Ning tetap saja terdiam.  Aku meraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat tanpa jijik.  Kutatap matanya, kubelai kepalanya.  Dia hanya diam.  Sebenarnya aku juga ingin menangis tapi aku tak akan melakukannya.  Karena hal itu hanya akan membuat dirinya semakin lemah.  Sedangkan aku ingin dia kembali kuat, seperti Ning yang kukenal dulu.
     Perlahan kudekap dia dalam pelukanku.  Kurasakan ada butiran-butiran hangat membasahi dadaku saat itu. Menangislah Ning, menangislah.  Mungkin Tuhan akan mendengarkan tangismu dari tempat Yang Maha Tinggi.
     Hari berikutnya aku membawakannya martabak kesukaannya.  Aku menyuapinya dengan lembut.  Aku hanya ingin melihat dia tersenyum lagi seperti dulu.  Aku ingin mendengarnya bicara lagi, setelah sekian bulan ia membisu. Tapi rupanya canda tawaku tak mampu menembus lubuk hatinya yang masih terasa pahit.  Jadi yang kulakukan hanya melayaninya dan menggenggam tangannya seharian.  Kuharap sentuhan kasih akan menjalar sampai ke hatinya yang paling dalam.  Walau ia selalu merespon dengan menggenggam tanganku juga, namun aku belum yakin dia bisa menerima kehadiranku sepenuhnya.
     “Aku ingin mengajakmu jalan-jalan,” Kataku akhirnya.
     Ning tidak merespon.
     “Aku punya teman yang semuanya para manula.  Mereka tak punya pekerjaan.  Tapi mereka mengisi waktu mereka dengan mengunjungi orang-orang yang sakit di rumah sakit. Mereka menghibur bahkan juga mendoakan para pasien.  Hidup mereka jadi lebih berarti sekarang.  Kalau kamu mau aku akan mengenalkan mereka padamu.”
     Ning tetap tidak merespon.
     “Ya sudah kalau belum mau.  Tapi tetap mau jalan-jalan kan?  Menikmati lembayung senja sampai malam kayaknya romantis juga.  Kalau kamu diam aja berarti iya.”
     Ning tetap diam.
     Aku sengaja memancingnya begitu. Kupakaikan topi dikepalanya. Kurapihkan pakaiannya.  Dan kukenakan cadar pada wajahnya sehingga orang-orang tidak bisa melihat wajahnya.  Kulilitkan selimut di tubuhnya sehingga tangan dan kakinya tidak terlihat.  Ning diam saja, berarti dia mau.
     Perlahan aku mendorong kursi rodanya, mula-mula keluar kamarnya lalu keluar rumahnya.  Ning tetap terdiam,padahal dia sebenarnya bisa bicara walau tidak begitu jelas. Orang-orang memandangi kami tapi aku terus saja mendorongnya.  Tampak Ning tak nyaman dipandangi seperti itu.  Tapi karena dia diam saja,aku tak peduli.
     Di sebuah taman kami berhenti.  Kuajak dia memandang lembayung di ufuk barat, sinar matahari sore yang jingga, indah dipandang. Ning mulai terasa nyaman.  Berkali-kali aku mendengar ia menghela nafas panjang.  Dia pasti senang,setelah berbualn-bulan lamanya tak melihat matahari.
     Aku berjongkok di sisinya.  Kuraih tangannya dalam selimut dan kukecup lembut.  Dalam hati aku berkata, ”Aku tetap mencintaimu Ning, seperti waktu dulu.” Sayangnya aku belum melihatnya tersenyum.  Ah, mungkin karena aku tidak bisa melihatnya karena bentuk bibirnya yang tak beraturan.
     Lama kami disana sampai jauh malam.  Dan angin malam yang berhembus terasa begitu nyaman menyejukkan hati kami.  Bintang-bintang mulai bertebaran.  Bulatan purnama yang sempurna tak luput kami nikmati.
     Ning menarik tanganku, menyuruhku mendekatkan telingaku padanya.  Aku menurut.
     “Aku bahagia...” Katanya berbisik tak jelas.
     Aku tersenyum dan mengangguk.
     Tapi sayang kebahagiaannya hanya sesaat.  Waktu kami pulang, cadarnya tersingkap angin.  Beberapa anak kecil yang melihat wajahnya menjerit dan berteriak ketakutan.  Ning jadi panik dan memberontak.  Aku juga terkejut.  Segera saja aku menutupinya dan mendorongnya cepat-cepat sampai ke rumah.
     Ning tak berhenti menangis.  Ibunya menyalahkan aku habis-habisan.  Aku cuma terdiam dan tak tahu berkata apa.  Hanya kata maaf  yang mendalam keluar dari mulutku untuk Ning dan ibunya.  Setelah itu aku tak tahu lagi harus berbuat apa.
     Hubungan aku dengan Ning dan ibunya jadi renggang semenjak saat itu.  Tapi kupikir aku tak boleh menyerah.  Aku harus menyelesaikan semuanya ini dan kembali kepada Ning. Menawarinya hidup yang baru.  Karena tak mungkin aku membiarkannya hidup seorang diri hanya berteman sepi di kamarnya.
     Aku tak menyangka walau ibunya masih marah padaku tapi Ning memaafkan aku.  Ya setidaknya sikap diamnya menunjukan bahwa dia tetap menyukai aku.  Walaupun dia tampak sedih tapi kulihat dia memang membutuhkan aku untuk menemaninya melewati hari-hari.
     Setelah sekian lama aku menemani Ning, bersentuhan dengannya, menemani kesepiannya akhirnya aku memberanikan diri juga untuk mengatakan tujuanku yang sebenarnya kepada Ning.  Hari itu aku lebih banyak mendorongnya untuk berbuat sesuatu daripada diam seperti biasanya.  Aku lebih banyak bicara tentang kehidupan dan kehendak Yang Maha Tinggi.  Aku mau Ning diselamatkan dari hidupnya yang tanpa harapan.  Aku mau jiwanya menjadi tenang. Aku ingin dia berarti dalam menjalani hari-harinya bahkan memberi kebahagiaan bagi banyak orang. Aku ingin ingin Ning tahu, bahwa seonggok kotoran masih berguna untuk dijadikan pupuk.
     “Kau harus keluar dari semua ini,” Kataku pelan, ”Mulailah bicara, karena hanya itu yang mungkin kau lakukan saat ini.  Jangan menganggap bahwa kau tak berguna lagi, masih banyak orang yang membutuhkanmu.  Aku akan menemanimu sampai akhir hayatku.  Jangan malu dan takut akan keadaanmu, mulailah hadapi kenyataan.  Mungkin tiada harapan. Mungkin kita tak dapat merubah keadaanmu. Tapi bisakah kita mengubah orang-orang,sementara kita tak sanggup lagi merubah diri kita sendiri.  Memang kita tak mudah merubah keadaan, tapi kita bisa merubah hati kita.  Kita bisa merubah cara berfikir.  Kita bisa merubah jalan hidup.”
     Ning menghela nafas panjang, menitikan air matanya.
     “Aku ada untuk menunjukan bahwa Tuhan masih ada.  Aku peduli dan sayang padamu untuk membuat kau sadar bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa masih peduli dan sayang padamu. Supaya kau tidak takut.  Supaya kau tidak berjalan sendirian.  Banyak perkara yang tidak kita mengerti, tapi aku yakin bahwa Tuhan peduli.”
     Tubuh Ning bergetar.  Ia mengulurkan tangannya yang lebih mirip sirip kepadaku.  Aku meraihnya dan mengecup tangannya.  Kupandangi dia dalam-dalam yang tampak dalam kepasrahan.
     “Apa...saja. Asal...jangan...tinggalkan...aku...” Katanya sambil menangis. Itu kalimat terpanjang pertama yang Ning ucapkan.
     Sejak saat itu kami sepakat untuk selalu menjalani hari-hari dengan penuh makna.  Aku mengenalkan Ning dengan ibu-ibu manula yang selalu mendatangi para pasien di rumah sakit.  Awalnya dia tertarik untuk ikut mereka,dan hanya ikut saja.  Aku memaksa Ning untuk menerima keadaannya sehingga dia tak perlu lagi menutup-nutupi keadaannya. Berat memang baginya, tapi kuingin dia bisa menerima dirinya dulu sebelum dia bisa diterima oleh orang lain.
     Hari pertama aku mengantarnya ke rumah sakit adalah hari yang menyakitkan bagi Ning. Banyak orang terkejut melihatnya.  Pandangan mereka menusuk dalam ke dalam jiwanya. Teriakan anak-anak yang ketakutan dan meneriakinya dengan sebutan ‘setan’ atau ‘hantu’ semakin meremukan jiwanya.  Tapi ibu-ibu manula itu selalu menghibur dan menguatkannya.
     Bu Grace yang banyak menceritakan dia kepada para pasien, supaya para pasien memiliki harapan untuk hidup.  Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya sadar bahwa hidup mereka masih ada harapan walau dokter atau penyakit telah memvonis hidup mereka. Lama kelamaan Ning merasa penderitaannya ada gunanya juga untuk membangkitkan semangat dan harapan orang lain.  Walau jujur, aku tahu Ning sendiri belum menemukan pengharapan itu.
    Hari-hari telah berganti dan Ning telah terbiasa dengan hidupnya yang sekarang.  Aku senang.  Dia menemukan kembali semangatnya yang hilang.  Dia mulai mau bicara kepada orang, setidaknya sepatah dua patah kata kesaksiannya di hadapan para pasien di rumah sakit. Selebihnya dia lebih banyak diam walau kepadaku.
     Kepala rumah sakit yang mengetahui kegiatan kami mulai bersimpati kepadanya.  Beliau mendorong kami untuk tetap semangat dan menjanjikan kepada Ning untuk dioperasi secara gratis di rumah sakit itu.  Ning girang bukan main.  Walau prosesnya butuh waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya.  Karena Ning harus menjalani operasi ‘face off’ secara bertahap.
     Setidaknya masih ada harapan ya Ning.
     Ibu Ning mulai melunak terhadapku.  Mungkin dia sudah melihat ketulusanku merawat Ning.  Apalagi dia melihat Ning telah berubah dan telah menemukan arti hidupnya.  Sebagai orangtua dia sangat bahagia,walau hal itu tak dapat menutupi kepedihan dan kesedihannya. Bagiku itu berarti semakin leluasa aku mengisi hari-hari Ning.
     Seperti biasa Ning ingin aku meraih tangannya dan meletakkan tanganku di wajahnya.  Itu artinya dia bahagia.  Dia mulai bisa tersenyum walau kelihatan aneh. Matanya berbinar indah, walau kelihatan janggal.  Tapi aku tetap menyayangimu Ning.
     “Terima kasih Bang...Terimakasih...” Katanya lirih.
     Aku tersenyum mengangguk.
     Aku sering membawakan Ning buku-buku sehingga itu dapat mengisi waktunya disaat aku tak menemaninya.  Harapannya semakin kuat.  Dan dia tidak lagi menyesali keadaannya itu.  Dia mulai mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan kepadanya.
     Disaat Ning mulai bangkit dan termotivasi melalui buku-buku yang dibacanya.  Entah mengapa guncangan kembali menerpa jiwanya.  Aku menjadi kuatir padanya saat itu.  Walau tak kusangka Ning kutemukan semakin kuat dan dapat melalui semuanya itu dengan bijak.
     Adalah Bu Milana, wanita berusia lima puluh tahunan yang sempat divonis sakit kanker dan umurnya hanya beberapa bulan lagi, mendatangi rumah Ning sore itu.  Ia bersama seorang anaknya yang masih muda membawa kabar gembira dan juga kabar buruk bagi kami.
     Kabar gembiranya, dia dinyatakan sembuh dari sakitnya karena memiliki semangat hidup yang menggelora sejak bertemu dan banyak sharing dengan Ning.
     “Beberapa hari ini Ibu bahagia, benar katamu Ning, hati yang gembira adalah obat yang mujarab,” Katanya memulai cerita.  ”Umur Ibu yang diperkirakan hanya beberapa bulan saja kini ternyata tak terbukti.  Itu berkat kamu juga Ning.  Waktu lihat kamu pertama kali ibu takut melihatmu dan menyangka kamu...maaaf...hantu.  Tapi setelah Ibu berbicara kepadamu dan kamu menceritakan bagaimana kejamnya hidup menimpamu, namun kamu tetap semangat dan bahkan bisa berarti bagi orang lain, Ibu menemukan semangat Ibu kembali.  Ibu menemukan harapan yang nyaris tak ada lagi.  Semua karena kamu Ning...karena kamu. Entah bagaimana Ibu harus berterima kasih.”
     Ning tersenyum dan melirik ke arahku.  Aku mengangguk dan membalasnya.
     “Kamu telah menjadi malaikat bagi Ibu sekarang.”
     Bu Milana berubah terdiam setelah itu.  Ia melirik anaknya yang sejak tadi berdiri di sisinya sambil tertunduk tanpa berkata sepatah katapun.  Wajah pemuda itu tampak murung dan kelihatan gemetaran.
     Bu Milana meraih tangan anaknya.  Ia menghela nafas panjang dan melanjutkan ceritanya.
     “Tapi kebahagiaan itu hanya sesaat Ning.  Bahkan mungkin Ibu memang harus mati.  Ibu harus menjalani kutukan sakit.  Setelah sembuh,rasanya Ibu ingin mati saja.  Entah mengapa ini harus terjadi. Semua ini karena pengakuan anak Ibu ini setelah Ibu menceritakan tentangmu.  Biarlah ia yang bicara...”
     Bu Milana menangis dan tak kuasa menahan kepedihan.
     Aku dan Ning tak mengerti keadaan.
     Tiba-tiba pemuda itu tersungkur di hadapan kaki Ning sambil menangis dan meminta ampun.
     “Ampuni saya Mbak, ampuni saya...” Katanya menjerit lirih.
     “Kenapa?” Tanyaku.
     “Saya...sayalah yang memperkosa Mbak dan membakarnya...”
     Bagai disambar petir rasanya aku ini.  Kaget bukan main.  Terlebih lagi Ning.  Dia terguncang dan panik. Tubuhnya gemetar hebat. Buru-buru aku memeluknya dan menenangkannya.  Lalu aku mendorong kursi rodanya ke kamar bersama ibunya yang tampak sangat marah dan geram.
     Lebih dari setengah jam aku dan ibunya menenangkan Ning. Tangisnya tak kuasa terbendung.  Dadanya terlihat sesak dan nafasnya tersengal-sengal.  Aku terus berusaha menenangkannya.  Memeluknya.  Membelainya.  Menciumnya. Ah...entah apalagi yang harus kulakukan.  Sebab bukan hanya Ning saja yang terguncang, kami juga.
     Ibunya berniat mengusir kedua orang tamunya itu, tapi aku mencegahnya.  Biar Ning menyelesaikan semua ini.  Biarlah ini menjadi jalan hidup yang harus dilaluinya.  Dia yang harus memutuskan bagaimana nasib pemuda itu.  Lebih tepatnya lagi, Ning yang harus memutuskan hidupnya sendiri.  Apakah pemuda itu akan menghancurkan hidupnya lagi atau malah membuatnya lebih bijak menghadapi semua ini.
     Lebih dari dua jam aku menghibur dan menasehati Ning, sementara ibunya menemani Bu Milana dan anaknya yang pasrah.  Aku mengajari Ning tentang arti cinta saat itu.  Karena cinta lah aku tetap setia menemani Ning.  Karena cinta lah Ning telah berubah memandang hidupnya.  Karena cinta lah ia mau peduli pada orang lain.
     Memang susah menenangkan jiwa yang terguncang.  Tapi Ning sudah lain sekarang. Kami sepakat aku akan berbicara kepada kedua orang tamunya itu.  Dia percaya padaku sama seperti aku percaya padanya dia telah berubah.
     Aku mendorong kursi roda Ning mendekati tamu kami.
     Bu Milana dan anaknya masih tertunduk, tak sanggup mengangkat wajahnya.
     Ibu Ning masih gusar dan diam dengan tangan terkepal.
     “Saya disuruh bicara sama Ning,” Kataku mencairkan suasana yang tegang.  Kupegang tangan Ning kuat-kuat.  ”Tak ada gunanya masa lalu, tak ada gunanya diingat-ingat lagi.  Kita hidup bukan untuk hari kemarin.  Tak ada gunanya penyesalan.  Esok masih ada harapan untuk kita berubah.  Ning memaafkanmu...”
     Ibu Ning geram berdiri.
     Pemuda itu tersungkur lagi di kaki Ning dan menangis.
     Bu Milana malah menciumi kaki Ning.
     Ning mengusap kepala kedua tamunya itu.  “Sudahlah...” Katanya mantap.
     Aku berharap semua berubah.  Benar Ning,kita memang tak sanggup mengubah keadaan diri kita.  Tapi setidaknya ketika hati kita berubah, kita telah banyak membuat orang berubah. Banyak orang telah diubahkan oleh keadaanmu yang mengenaskan itu.  Banyak orang disembuhkan karena sakitmu itu.  Banyak orang dipulihkan melalui penderitaanmu itu. Bahkan aku tak menyangka, kalau akhirnya ada orang yang bertobat karena kasih dan pengampunanmu.
     Lama setelah itu Ning lebih senang mengurung dirinya di kamar daripada mengunjungi pasien di rumah sakit.  Tapi aku tak memaksanya untuk melakukan itu.  Aku percaya Ning sudah pulih hatinya.  Aku percaya Ning dapat memilih hidupnya sekarang.  Apa yang dia mau lakukan adalah apa yang terbaik bagi dirinya.
     Tapi suatu pagi ia menggenggam tanganku dan mengajakku ke rumah sakit. Aku tersenyum dan segera mendandaninya.  Dia tak kuatir lagi mata orang-orang yang melihatnya akan berubah menjadi pedang bagi jiwanya. Dia tak takut lagi jeritan anak-anak memanggilnya ‘hantu’.  Dia tak perlu sedih lagi dan mengasihani diri sendiri.  Sampai akhirnya semua itu berhenti.  Ya semua itu akhirnya berhenti.  Ketika kau mau menerima keadaanmu, orang-orang pun akan menerima engkau apa adanya.
     Hari ini kita melangkah lagi Ning.  Membuat hari-hari kita lebih berarti.  Jalan masih panjang.  Masih teramat panjang. Tersenyumlah Ning menikmati sinar matahari.  Tertawalah Ning pada dunia.  Rasakan hembusan angin menerpa wajahmu, yang cantik...oh tidak, bukan itu, hatimu yang cantik Ning.  Ayo, Ghost of Angel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar